Senin, 28 September 2020

SELAMAT MENGUNJUNGI WEBSITE BADAN AKREDITASI NASIONAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DAN PENDIDIKAN NONFORMAL. PELAKSANAAN AKREDITASI SATUAN PAUD DAN PNF GRATIS/TIDAK BERBAYAR
close x

Jelang AKM 2021: Mempersiapkan Higher-Order-Thinking Skills Dalam Pembelajaran

Oleh: Ade Cahyana

Jelang AKM 2021:  Mempersiapkan Higher-Order-Think_1590650031.png

Urip iku urup – hidup hendaknya memberi manfaat bagi orang lain dan sekitar (Didi Kempot)

Akhir-akhir ini, taksonomi Bloom, suatu model klasik klasifikasi pengembangan tujuan pembelajaran kembali banyak dibicarakan. Bloom's Taxonomy of Educational objectives, karya Benjamin Bloom yang terbit pertama kali tahun 1956, dewasa ini banyak dikaitkan dengan soal-soal higher-order-thinking-skills (HOTS) untuk literasi dan numerasi, model butir soal yang akan digunakan dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), yang diputuskan oleh Kemdikbud sebagai model penilaian pengganti Ujian Nasional (UN).  Dalam perkembangannya, taksonomi tersebut kemudian direvisi pada tahun 2001, dua tahun setelah Bloom meninggal  dalam usia 86 tahun pada tahun 1999, oleh Lorin Anderson dan David Krathwol. Anderson adalah mahasiswa Bloom semasa mengajar di University of Chicago, sementara Krathwol adalah co.author taksonomi yang pertama saat diperkenalkan 45 tahun sebelumnya.

Untuk memahami perbedaan kedua model Taksonomi Bloom itu dan elaborasi perubahannya dari sudut pandang dinamika pola berfikir klasifikasi pembelajaran dapat digambarkan pada diagram berikut ini.

Diagram 1 : Taksonomi Bloom 1956 vs 2001

Perubahan yang mendasar dari Taksonomi versi perbaikan terutama pada tiga hal. Pertama, penamaan level kognitif dari kata benda (noun) ke kata kata kerja (verb). Perubahan ini terutama ditujukan untuk menggambarkan bahwa perubahan level kognitif tersebut dilakukan melalui dinamika keterlibatan aktif (active-engagement) penalaran yang berjenjang dan berkesinambungan. Kedua, knowledge sebagai hasil pemikiran (product of thinking) dinilai tidak akurat untuk disebut sebagai suatu bentuk pemikiran (a form of thinking) sehingga dalam versi perbaikan diganti oleh remembering. Ketiga, adanya creating sebagai tingkatan pemikiran baru. Creating adalah kemampuan kognitif untuk menyusun informasi lama dalam pemikiran baru dengan menggabungkan semua unsur dalam obyek yang dibahas dalam pola dan struktur entitas baru berupa solusi alternatif, perencanaan atau produk.

Taksonomi ditata secara kritis mulai dari kemampuan berfikir tingkatan rendah (lower-order-thinking-skills atau LOTS ) sampai dengan kemampuan berfikir tingkatan tinggi (higher-order-thinking-skills atau HOTS ). Setiap tingkatan dalam taksonomi mewakili kemampuan dan abstraksi yang berbeda satu sama lain. Ada enam tingkatan abstraksi dalam taksonomi, yaitu: mengingat (remembering), memahami (understanding), menerapkan (applying), menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), menciptakan (creating). Tingkatan paling rendah merupakan kemampuan kognisi pada tataran simplistik yang paling dasar dan tingkatan paling tinggi merupakan kemampuan kognisi pada tataran yang paling intelektual dan kompleks. Gagasan di balik teori taksonomi ini adalah bahwa dalam menuntaskan suatu unit pembelajaran, peserta didik dituntut untuk menguasai kemampuan pola berfikir pada tingkatan yang lebih rendah atau LOTS terlebih dahulu sehingga dapat memahami pola berfikir dalam tingkatan yang lebih tinggi atau HOTS. Hal ini sejalan dengan apa logika sekuensial berjenjang bahwa: “…before we can understand a concept we have to remember it, before we can apply the concept we must understand it, before we analyse it we must be able to apply it, before we can evaluate its impact we must have analysed it, before we can create we must have remembered, understood, applied, analysed, and evaluated (Andrew Churches, 2017)”

Pada figure berikut di bawah ini digambarkan secara singkat bagaimana pergerakan pola berfikir kognitif dalam suatu kegiatan pembelajaran bergerak dari lower-order-thinking-skills (LOTS) ke arah higher-order-thinking-skills (HOTS) berdasarkan kemampuan tingkatan berfikir kognitif.

Diagram 2 : Transisi Dari LOTS ke HOTS

Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran, Taksonomi Bloom dapat memberikan acuan prosedur pembelajaran dan penilaian tentang bagaimana kemampuan peserta didik ditingkatkan mulai dari awal suatu obyek dikenal dan diingat (remembering), difahami keberadaannya (understanding), diterapkan konsep pengembangannya (applying), dianalisis komponen sistemnya, (analyzing), dinilai dan ditentukan alternatif keputusannya (evaluating), dibuatkan alternatif bentuk baru berdasarkan kajian 1-5 yang mendahuluinya (creating). Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: “Haruskah kita mulai dari tingkatan abstraksi yang paling rendah? Menurut Churches (2017) ini adalah pilihan bukan keharusan: “…some people may argue about that you do not require some of the stages for each and every task, action or process; some too may argue about the necessity to reach the creation level for all activities. This is the choice of the individual. Is it important where you start? Must I start with remembering? I don't think it is. The learning can start at any point, but inherent in that learning is going to be the prior elements and stages.

Mari kita coba simulasikan dengan topik yang sedang hangat dibicarakan tentang pemindahan ibukota negara dari Jakarta ke luar Jawa: (1) remembering: Ibu kota negara adalah di: Jakarta. Ada fakta deskriptif tentang profil jakarta yang kita ketahui, antara lain: luas, letak geografi, penduduk, kemacetan, sarpras sosial; (2) understanding: mengapa ibukota negara di Jakarta? Pertanyaan yang kemungkinan memiliki jawaban advokatif dari berbagai dimensi fisik, politik, ekonomi, sosial, budaya, di dalam upaya mencari pembenaran mengapa jakarta menjadi ibukota negara; (3) applying: bagaimana jika ibukota negara tidak di Jakarta? Pertanyaan ini bersifat asumtif yang jawabannya kemungkinan memiliki faktor resiko ekonomi, sosial, civil-effect; (4) analyzing: bagaimana peluang ibukota negara ke depan, apakah masih di Jakarta atau luar Jawa? Pada level ini diperlukan kajian analitikal dari pembedahan komponen-komponen utama dari ibukota negara yang sudah ada dan yang harus dibangun, serta social-cost, political-cost dan economical cost yang terlibat dalam menentukan alternatif pilihan; (5) evaluating: apakah cukup data dan informasi dan kriteria pendukung untuk membuat keputusan tentang penentuan ibukota negara ?; (6) creating: menyatukan semua elemen obyek yang telah diputuskan untuk membentuk fungsi ibukota negara yang lama dengan struktur, pola, perencanaan dan produk kelembagaan yang baru yang lebih baik dari ukuran kekinian.  Dari contoh ini, tentu saja peserta didik boleh mulai dari tingkatan berfikir (2) atau (3), kalau mereka memiliki pengetahuan siap (prior-achievement) pada tingkatan berfikir (1) atau (2), atau pada tingkatan mana saja sesuai dengan pengetahuan siap mereka.

Pada ranah kognitif dalam taksonomi, sekuens pembelajaran dilakukan secara utuh dan terintegrasi. Metoda pembelajaran yang digunakan difokuskan untuk menginisiasi pola fikir peserta didik sehingga memiliki kemampuan berfikir pada tataran yang lebih tinggi (higher-order-thinking-skills). Keluaran yang diharapkan dari proses pembelajaran seperti ini adalah siswa dengan kemampuan analitikal tinggi, berpikir kritis dan berorientasi pada pemecahan masalah di samping memiliki kemampuan untuk mengevaluasi suatu keadaan atau kejadian secara utuh dan sistemik. Ada disain prosedural baku yang meliputi tiga hal harus dilalui sebelum peserta didik bisa mencapai tingkatan berfikir seperti itu, antara lain: perencanaan kurikulum, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Churches (2017), bahwa: The revised taxonomy emphasizes its use as a tool for alignment of curriculum planning, instructional delivery, and assessment.  

Diagram 3 : HOTS Dalam CIA

Berdasarkan diagram di atas, HOTS sebagai proses kognitif perlu direncanakan dalam kurikulum, diimplementasikan dalam proses pembelajaran dan dinilai hasil pelaksanaan pembelajarannya dalam asesmen. HOTS harus selalu memiliki triangulasi logical-order-curriculum-instruction-assessment. AKM sebagai pengganti UN sebagaimana disinggung di awal tulisan adalah dalam kapasitas fungsi menilai hasil pelaksanaan pembelajaran yang akan memberi masukkan tentang seberapa banyak intended-learning-outcomes dicapai. Hal ini sejalan dengan pemahaman kurikulum dalam pembelajaran sebagai – structured series of intended learning outcomes (Mauritz Johnson, 1980)

Kebijakan Kemdikbud untuk menghapus Ujian Nasional (UN) pada 2021 mendatang lalu menggantinya dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter sudah mulai ditanggapi dan diantisipasi pelaksanaannya secara kurang tepat di lapangan. Beberapa Dinas Pendidikan di tingkat kabupaten/kota, dengan material dan sumberdaya seadanya bahkan mencoba menyusun, mempersiapkan pelatihan soal-soal higher-order-thinking-skills (HOTS) untuk literasi dan numerasi bagi para gurunya tanpa memberikan sekuens pelatihan perencanaan dan praktik pembelajaran menggunakan HOTS. Agak sulit membayangkan bagaimana reaksi siswa yang terbiasa mengikuti proses pembelajaran dilaksanakan secara konvensional lalu diberi “kejutan” dengan penilaian menggunakan butir-butir soal yang berkarakter higher-order-thinking-skills (HOTS). Bahkan “kejutan” pertama sudah membuat keder salah seorang guru yang cukup cerdas, peserta pelatihan uji coba butir soal HOTS yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan pada salah satu kabupaten di luar Jawa.

“Untuk soal AKM memang benar kata Pak Menteri, dibutuhkan kemampuan menalar yang tinggi, bisa membaca diagram, grafik, angka-angka maupun data. Selain itu dibutuhkan keterampilan membaca cepat sekaligus paham isi bacaan. Kalau tidak, kita tidak akan bisa menyelesaikan dengan waktu yang tersedia. Saya hanya sempat mengecek jawaban sekali, itu pun hanya memastikan apakah semua soal sudah saya jawab ataukah ada yang belum. Tidak sempat untuk memikir ulang. Ketika saya klik ‘selesai’ waktu yang tersisa hanya 18 detik (Hamidah, 2020).”

Bahkan guru saja kalau tidak terbiasa mengerjakan butir-butir soal berkarakter higher-order-thinking-skills mengalami kesulitan; padahal seharusnya soal tersebut dikerjakan oleh siswa. Melatih guru menggunakan soal-soal HOTS untuk penilaian bukan jalan pintas untuk merubah strategi guru dalam mengajar atau perilaku siswa dalam belajar. Penting untuk difahami, bahwa fokus penerapan taksonomi Bloom adalah dalam strategi pembelajaran bukan pada asesmen. Asesmen mengikuti strategi pembelajaran yang mendahuluinya. Jika strategi pembelajaran dilaksanakan menggunakan HOTS, maka tanpa atau dengan pelatihan, guru akan melakukan asesmen HOTS minimal melalui tes formatif untuk menilai kemajuan belajar atau tes sumatif untuk menilai hasil pembelajaran di dalam kelas dan/atau pada mapel yang dia ampu.

Dengan demikian, menjelang pelaksanaan AKM pada tahun 2021, cukup beralasan untuk menyarankan lebih memprioritaskan pelatihan guru dalam strategi pembelajaran menggunakan HOTS, ketimbang pelatihan guru dalam penyusunan butir-butir soal HOTS, atau alternatif komprominya adalah pelatihan guru dalam strategi pembelajaran HOTS yang terintegrasi dengan pelatihan penyusunan butir soal di dalamnya. 

Jika ini berhasil dilaksanakan, sangat boleh jadi hasil asesmen dari proses pembelajaran menggunakan HOTS merupakan representasi dari perilaku mengajar pendidik dan hasil belajar peserta didik yang terinternalisasi.

Oleh:

Ade Cahyana

Anggota BAN PAUD dan PNF

Akademisi pada Departemen Pendidikan Masyarakat FIP - UPI