Jumat, 03 Desember 2021

SELAMAT MENGUNJUNGI WEBSITE BADAN AKREDITASI NASIONAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DAN PENDIDIKAN NONFORMAL. PELAKSANAAN AKREDITASI SATUAN PAUD DAN PNF GRATIS/TIDAK BERBAYAR
close x

Menjawab Tantangan Lost Learning dan Lost Generation di Tengah Pandemi

Oleh: Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag

Menjawab Tantangan Lost Learning dan Lost Generati_1634535648.png

Banyak pihak mengkhawatirkan terjadinya fenomena generasi yang hilang (lost generation) akibat kurang optimalnya pelayanan pendidikan anak-anak selama musim pandemi. Fenoman lost generation merupakan dampak dari hilangnya kesempatan peserta didik memperoleh pembelajaran yang maksimal (lost learning). Seperti dikemukakan dalam beberapa survei lembaga dalam dan luar negeri, pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dilakukan selama pandemi ini dinilai tidak efektif. Survei UNICEF, misalnya, mengatakan bahwa 66 persen peserta didik tidak nyaman dengan PJJ (Juni 2021).   

Apalagi sejauh ini PJJ selalu mengandalkan kepemilikan perangkat digital. Padahal semua orang memahami bahwa kehidupan masyarakat di daerah sangat sulit secara ekonomi. Bahkan diantara orangtua peserta didik telah menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK). Dengan situasi ini, maka jangankan membeli perangkat digital dan kuota internet, untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup sehari-hari saja masyarakat saja sangat kesulitan. Pembelajaran secara daring juga menjadi masalah bagi peserta didik yang tinggal di daerah yang belum terjangkau internet.

Karena itulah kebijakan Kemendikbud Ristek untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) perlu didukung semua pihak. Pemerintah daerah penting mendukung seraya memastikan penyelenggaraan PTM tetap menggunakan protokol kesehatan yang ketat. Hal itu karena kebijakan PTM dimaksudkan untuk mencegah terjadinya lost learning dan lost generation. Dengan begitu, kualitas generasi bangsa tidak terus menurun. PTM juga penting untuk memastikan proyeksi pemerintah tatkala merumuskan peta jalan generasi emas 2045.

Peta jalan ini dibuat untuk menyongsong lahirnya generasi emas bangsa tepat pada saat Indonesia merayakan hari ulang tahun kemerdekaan (HUT) ke-100. Pada 2045 itulah negeri tercinta akan menikmati bonus demografi. Generasi emas usia produktif yang berkarakter, berkompeten, dan berliterasi tinggi diharapkan berlimpah. Impian tersebut sangat mungkin akan gagal jika negeri tidak merespon dampak pandemi Covid-19 secara tepat. Padahal pandemi ini sudah memasuki tahun kedua. Dampak pandemi di dunia pendidikan juga luar biasa.

Selama tiga semester, terhitung sejak Maret 2020 hingga Juli 2021, Sebagian besar satuan pendidikan masih melaksanakan pembelajaran secara daring/virtual. Bahkan pada tahun ajaran baru 2021/2022 yang diharapkan menjadi awal penyelenggaraan PTM juga masih menggunakan PJJ. Hal itu karena pada Juli-Agustus 2021 terjadi lonjakan kasus Covid-19. Pemerintah pun menetapkan masa itu sebagai periode darurat Covid-19. Tetapi kini kondisi pandemi terus melandai. Dengan kondisi terus membaik ini, Kemendikbud meminta pemerintah daerah untuk memulai penyelenggaraan PTM.

Hingga kini satuan pendidikan mulai SD, SMP, dan SMA/SMK telah melaksanakan PTM. Kita tentu berharap agar semua pihak membantu pelaksanaan PTM agar berlangsung dengan baik. Para orangtua penting memberikan dukungan dengan membesarkan hati anak-anak (encouragement) agar mengikuti PTM. Disamping itu, orangtua diminta untuk memastikan anak-anak tetap berpola hidup dengan protokol kesehatan yang ketat. Belajar di sekolah dengan tetap bermasker, menjaga jarak, rajin mencuci tangan memakai sabun, dan budaya kesehatan lainnya.

Harus diyakini, PTM merupakan pilihan terbaik di tengah pandemi yang terus melandai ini. Kini yang sedang ditunggu adalah kesiapan perguruan tinggi untuk menyelenggarakan PTM. Tantanga satuan pendidikan, termasuk perguruan tinggi, adalah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan jika terjadi kasus penyebaran Covid-19. Jika terjadi klaster di lembaga pendidikan, langkah terbaik adalah mencari solusi agar penyebaran Covid-19 tidak terus terjadi. Jadi, bukan dengan membatalkan PTM. Komitmen ini penting dimiliki satuan pendidikan, pemerintah daerah, orang tua, dan peserta didik. Semoga dengan cara ini kita dapat menyelamatkan generasi bangsa dari ancaman lost learning dan lost generation di tengah pandemi.

Oleh :

Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag ( Anggota BAN PAUD dan PNF , Guru Besar UIN Sunan Ampel)