Sabtu, 18 September 2021

SELAMAT MENGUNJUNGI WEBSITE BADAN AKREDITASI NASIONAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DAN PENDIDIKAN NONFORMAL. PELAKSANAAN AKREDITASI SATUAN PAUD DAN PNF GRATIS/TIDAK BERBAYAR
close x

Menggelorakan Kembali Spirit Rumahku Sekolahku

Oleh: Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag

Menggelorakan Kembali Spirit Rumahku Sekolahku_1628751910.png

Tahun ajaran baru 2021/2022 kembali dilaksanakan dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ). Padahal sebelumnya banyak pihak berharap Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mulai dilaksanakan pada tahun ajaran baru ini. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) juga tampak sangat optimistik memulai PTM. Alasannya banyak sekolah siap melaksanakan PTM. Sejauh ini PJJ juga dinilai kurang efektif dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dampaknya, pendidikan nasional bisa semakin tertinggal dari negara lain.


Tetapi perkembangan kasus Covid-19 justru semakin mengkhawatirkan menjelang tahun ajaran baru. Untuk mengendalikan pandemi yang terus meningkat, pemerintah membuat kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat Covid-19. Peningkatan kasus Covid-19 menjadi alasan mayoritas pemerintah daerah tidak mengijinkan pelaksanaan PTM. Pertimbangan utamanya adalah keselamatan jiwa guru dan peserta didik. Apalagi faktanya belum semua guru divaksin. Karena itu, dapat dipahami jika PJJ kembali menjadi pilihan utama pemerintah daerah dan satuan pendidikan. Dengan kembali dilaksanakannya PJJ berarti anak-anak harus belajar di rumah. Dalam kondisi ini berarti keluarga sebagai pilar pendidikan penting diperkuat untuk menghadapi tantangan pembelajaran tahun kedua pandemi. Keluarga atau orangtua menurut Ki Hadjar Dewantara merupakan bagian dari trisentra (tripusat) pendidikan, selain sekolah dan lingkungan sosial. Dengan demikian, orangtua harus menyadari pentingnya menjadi pendidik dan pengasuh sejati (murabbi) bagi anak.


Pada konteks itulah orangtua penting memahami pernyataan hikmah: al-baytu madrasah al-ula (rumah adalah tempat pendidikan yang pertama). Sejalan dengan ungkapan ini, selama pandemi banyak pihak menggelorakan spirit baytiy madrasatiy (rumahku adalah sekolahku). Harus diakui, untuk menjadikan rumah laksana sekolah memang tidak mudah. Selama tahun pertama pandemi, orangtua sudah merasakan betapa berat tugas mendidik dan mengasuh anak. Dengan terpaksa atau penuh kesadaran, selama pandemi orangtua juga harus lebih peduli dengan pendidikan anak. Rasanya itulah salah satu hikmah tersembunyi (a blessing in disguise) dari pandemi. Dalam karya monumetalnya, A Study of History (1997), sejarawan Inggris Arnold J Toynbee mengenalkan hukum sosial yang tak terelakkan: challenge and response. Menurut Toynbee, setiap tantangan (challenge) pasti diikuti reaksi (response). Pandemi dengan semua dampak yang ditimbulkan merupakan sebuah tantangan. Tugas kita adalah merespon tantangan itu dengan reaksi terbaik.


Jika kita memahami PJJ sebagai tantangan, maka reaksi terbaik adalah menggelorakan kembali spirit rumahku sekolahku. Itu berarti orangtua harus menyadari posisi dirinya sebagai pendidik dan pengasuh terbaik bagi anak. Orangtua atau keluarga tidak boleh memasrahkan pendidikan anak pada sekolah semata. Justru lingkungan keluarga dan masyarakat yang banyak memengaruhi pembentukan karakter anak. Hal itu karena waktu anak berada di lingkungan keluarga dan masyarakat lebih lama dibanding di sekolah. Tetapi sangat disayangkan, masih banyak keluarga dan lingkungan masyarakat yang belum menyadari fungsinya sebagai pembentuk karakter anak. Lebih ironis lagi, banyak orangtua memasrahkan pendidikan dan pengasuhan anak pada asisten rumah tangga. Padahal asisten rumah tangga belum tentu memiliki kemampuan mendidik dan mengasuh anak. Dalam kondisi ini anak-anak pasti tidak tumbuh kembang dengan baik (child unwellbeing). Itu terjadi karena anak-anak mengalami salah pendidikan dan pengasuhan.


Dengan semua suka duka dalam mendidik dan mengasuh anak selama pandemi, rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kepedulian orangtua pada pendidikan anak semakin meningkat. Agar kondisi ini tetap terjaga, maka semua pihak harus menggelorakan tagline “rumahku sekolahku”. Akhirnya, terima kasih pandemi Covid-19 karena telah mengembalikan posisi keluarga atau rumah sebagai madrasah yang pertama. Musim pandemi juga menumbuhkan keasadaran orangtua sebagai pendidik dan pengasuh terbaik bagi anak.

Oleh :

Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag ( Anggota BAN PAUD dan PNF , Guru Besar UIN Sunan Ampel)