Kamis, 13 Agustus 2020

SELAMAT MENGUNJUNGI WEBSITE BADAN AKREDITASI NASIONAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DAN PENDIDIKAN NONFORMAL. PELAKSANAAN AKREDITASI SATUAN PAUD DAN PNF GRATIS/TIDAK BERBAYAR
close x

Belajar merdeka sejak usia dini

Oleh: Ade Cahyana

Belajar merdeka sejak usia dini_1588125999.png

Teori merdeka belajar pertama kali diperkenalkan oleh Carl Ransom Roger dalam buku Freedom to Learn (1969). Teori merdeka belajar  lahir dari pemikiran teori humanisme yang berpandangan bahwa proses belajar itu berpusat pada inisiatif siswa untuk belajar (learner-centered), yang kemudian populer dalam jargon student-learning-centered.

Oleh karena itulah, salah satu prinsip belajar yang diyakini efektif oleh Roger adalah peran guru sebagai fasilitator, bukan pengajar (teacher). Menurut Roger, proses belajar yang baik pemikirannya maupun tanggung jawabnya, sepenuhnya diserahkan kepada insiatif siswa, akan menghasilkan output belajar yang dikuasai utuh dan terekam kuat secara mendalam.

Pengalaman penulis semasa masih kuliah di University at Albany (UA) di Upstate New York, mendapat tugas insternship sebagai Evaluation-Specialist pada salah satu mata kuliah  di School of Education, pada salah satu 4 Year-Old Pre-K, di Troy City, New York,  kota kelahiran Uncle Sam yang terkenal itu. Sesaat setelah memperkenalkan diri, saya minta mereka untuk berbicara. Sungguh mengagumkan, sekitar dua puluhan anak usia 4-5 tahunan di kelas, semuanya mengacungkan tangan.

Situasi itu membuat saya takjub dan keder juga. Lalu saya minta salah satu yang termasuk paling kecil badannya untuk berbicara. Agak melengking suaranya waktu dia berujar: “Are you the techer replacing Mr. Green while he is sick? I don’t like him. He mostly talks and sings, I wanna play clay to make animals”. Waktu saya katakan bahwa saya an-intern-student dari UA hanya untuk berkunjung, dia kelihatan agak kecewa dan menimpali: “too bad, you seem like a nice guy”. Spontan begitu saja anak itu bereaksi.

Sungguh suatu percakapan antara orang dewasa dengan anak usia 4 tahunan yang setara dan adil serta tanpa beban. Lingkungan sosial budaya setempat sepertinya memberi sense of pride untuk mengekspresikan diri secara merdeka tanpa harkat perbedaan usia atau guru-siswa dalam berkomunikasi. Bahkan seorang anak imut dapat memanggil nama kecil seorang dewasa tanpa beban. Hal itu karena kultur membebaskan dia untuk berkomunikasi secara merdeka, namun tetap beretika.

Kondisi itu berbeda dengan siswa PAUD kita di usia 4 tahunan yang sangat pemalu dan terkadang bergantung pada kehadiran ibu atau pembantunya untuk mau masuk kelas. Siswa usia 4 tahunan di US sangat independen dan percaya diri, bahkan terlalu percaya diri. Sehingga mereka diberi pelajaran tentang bagaimana menghadapi orang asing (stranger) yang kemungkinan dapat membahayakan dirinya. 

Dengan demikian, student-learning-centered dapat dimulai pada usia dini. Siswa dapat belajar merdeka untuk berinisiatif dan melakukan kegiatan kreatif dalam proses pembelajaran. Hal itu didukung oleh fakta bahwa perkembangan anak pada usia 0-5 tahun tergolong the golden age. Itulah masa terbaik perkembangan fisikal, emosional, dan intelektual anak yang sangat menentukan perkembangan masa depannya. Pengalaman yang terjadi pada masa itu akan terekam kuat di alam bawah sadar mereka dan kemungkinan besar akan mempengaruhi sikap dan perilakunya di kemudian hari.

Demikian pula, sistem saraf yang merupakan salah satu bagian dari sistem koordinasi dan mengatur aktivitas tubuh melalui rangsangan. Sel saraf (neuron) konon akan berkembang lebih besar 20% daripada keadaan normal jika dirangsang dengan pendidikan dan pengetahuan secara tepat dan berkelanjutan. Pada periode ini, kecerdasan manusia berkembang sebesar 50% pada usia 4 tahun. Kemudian kecerdasan tersebut berkembang 80% pada usia 8 tahun dan akan mencapai puncak tertingginya pada usia 18 tahun.

Dengan potensi kecerdasan yang begitu besar, anak-anak sudah dapat dibiasakan untuk mulai berinisiatif dalam mengenal dan melatih kemampuan dirinya. Anak-anak juga dapat bersosialisasi dengan lingkungannya, bergaul dengan temannya, baik di lingkungan sekolah maupun kelompok bermainnya, menjelajah tempat baru, bermain, meniru keterampilan atau perilaku tertentu yang baik. Di samping itu anak-anak juga membiasakan dan mengkondisikan mereka untuk untuk mengembangkan petualangan berfikir mereka secara bebas dan kreatif. Sehingga mereka dapat menjadi aset masa depan bangsa ini yang lebih baik.

Tantangan kita adalah bagaimana membantu mereka menjadi pemimpin bagi dirinya, membantu mengeksplorasi kehebatan potensi mereka, menemukan keindahan dan keragaman talenta mereka,  dengan memberikan kemudahan dan rasa kebanggaan bagi mereka untuk menempuh jalan itu secara merdeka. Jawabnya, mereka harus sudah mulai belajar merdeka sejak usia dini.

Petikan syair lagu berikut ini kemungkinan menggambarkan liku-liku anak usia dini dalam perjuangannya untuk belajar merdeka sehingga mereka menemukan dirinya sendiri:

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside

Anak-anak adalah masa depan kita
Ajarkan mereka dengan baik agar mereka bisa memandu jalannya sendiri
Tunjukkan keindahan dalam dirinya yang mereka miliki  

Give them a sense of pride
to make it easier
Let the children's laughter remind us how we used to be
Everybody's searching for a hero
People need someone to look up to
I never found anyone who fulfilled my needs

Berikan mereka rasa bangga akan dirinya untuk membuat ini lebih mudah
Biarkan mereka tertawa bebas seperti kita dahulu saat seusia mereka
Setiap orang mengimpikan pahlawannya
Semua orang butuh seorang idola
Namun aku tak pernah menemukan seorangpun yang memenuhi keinginanku

A lonely place to be
And so I learned to depend on me

Saat itulah tempat ini menjadi sebuah tempat yang sepi
Sehingga aku belajar mengandalkan diriku sendiri

I decided long ago never to walk in anyone's shadows

Aku bertekad sejak dulu untuk tidak pernah berjalan di bawah bayang-bayang orang lain

If I fail, if I succeed
At least I'll live as I believe

Jika aku gagal, atau berhasil
Paling tidak aku akan hidup seperti apa yang aku yakini

No matter what they take from me
They can't take away my dignity
Because the greatest love of all is learning to love yourself

Tak soal apa yang mereka ambil dariku
Mereka tidak akan bisa mengambil kebanggaanku akan diriku
Karena cinta terhebat dari segala cinta adalah belajar mencintai dirimu sendiri.

(George Benson: The Greatest Love of All)

Oleh:

Ade Cahyana

Anggota BAN PAUD dan PNF

Scholar pada Departemen Pendidikan Masyarakat FIP - UPI